oleh

Surat panggilan belum diterima Rohidin, KPK kirim ulang

Hidayahbengkulu.com-KPK menyebut surat panggilan terhadap Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah belum diterima oleh yang bersangkutan. Rohidin sedianya akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster.

“Bahwa surat panggilan sebagai saksi terhadap yang bersangkutan setelah kami cek, belum diterima. Tim Penyidik KPK, segera mengagendakan untuk dilakukan pemanggilan kembali kepada yang bersangkutan,” kata Plt juru bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Selasa (12/1).

Namun demikian, Ali belum merinci kapan Rohidin akan kembali dipanggil untuk diperiksa. “Mengenai waktunya akan kami informasikan lebih lanjut,” ucap Ali.

Sementara, Rohidin mengaku belum menerima surat pemanggilan dari KPK. Ia masih di Bengkulu dan menegaskan tak benar bahwa tengah diperiksa KPK.

“Sampai hari ini tidak ada pemanggilan apa pun dari KPK. Kalau ada media sosial yang mengatakan saya dipanggil KPK dan diperiksa, sampai hari ini pemanggilan itu belum ada sama sekali,” kata Rohidin dikutip dari Antara.

Rohidin merupakan Wakil Gubernur Bengkulu 2016-2017. Ia mendampingi Ridwan Mukti. Namun, Ridwan terjerat OTT KPK dalam kasus suap. Rohidin pun menggantikan posisi Ridwan dari 2018-2021.

Rohidin kembali maju sebagai Gubernur Bengkulu pada Pilkada 2020. Merujuk situs KPU, ia unggul dari dua pasangan saingannya.

Belum diketahui apa keterkaitan Rohidin di kasus suap ekspor benih lobster. Berdasarkan agenda pemeriksaan KPK, ia akan diperiksa untuk melengkapi berkas Direktur PT Dua Putra Perkasa, Suharjito yang berstatus tersangka dalam kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster.

Suharjito merupakan tersangka penyuap mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo. Ia diduga menyuap politikus Gerindra itu agar perusahaannya bisa mendapat izin ekspor benih lobster.

Dalam perkara ini, Edhy Prabowo melalui staf khususnya diduga mengarahkan para calon eksportir untuk menggunakan PT Aero Citra Kargo bila ingin melakukan ekspor. Salah satu adalah perusahaan yang dipimpin Suharjito.

PT Aero Citra Kargo diduga merupakan satu-satunya forwarder (pengangkut) benih lobster yang sudah disepakati dan direstui Edhy Prabowo. Para calon eksportir kemudian diduga menyetor sejumlah uang ke rekening perusahaan itu agar mendapatkan izin ekspor.

Uang yang terkumpul diduga digunakan untuk kepentingan Edhy Prabowo. Salah satunya untuk keperluan belanja barang mewah saat berada di Hawaii, Amerika Serikat.

Ia diduga menerima uang Rp 3,4 miliar melalui kartu ATM yang dipegang staf istrinya. Selain itu, ia juga diduga pernah menerima USD 100 ribu yang diduga terkait suap. Adapun total uang dalam rekening penampung suap Edhy Prabowo mencapai Rp 9,8 miliar.

Sudah ada tujuh orang yang dijerat sebagai tersangka dalam kasus ini. Tersangka penerima suap yakni Edhy Prabowo bersama dua staf khususnya, Safri dan Andreau Pribadi Misanta; Pengurus PT Aero Citra Kargo, Siswadi; Staf istri Menteri KP, Ainul Faqih; serta Amiril Mukminin.

Sementara, tersangka pemberi suap baru Suharjito yang dijerat(sumber kumparan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed